
|
 |
Noviana Kusumawardhani
| Main blog: | kekasih-waktu | | Age: | 40 | | Birthday: | November 2nd 1967 | | Gender: | Female | | Occupation: | Artistic / Creative | | Education: | School of life | | Religion: | Agnostic | | Location: | Indonesia, jakarta |
| Yahoo: |  |
| Tattoo Info: | Maroon Buterfly, Violet Buterfly, Ommanipadmiohm mantra :) |
| Sexual Preference: | Straight/Heterosexual | | Astrological Sign: | Scorpio (Oct 24 - Nov 21) | | Existing as: | Extraterrestrial | | Liquor: | Social drinker. One or two | | Exercise: | Don't exercise |
seperti inilah
seperti inilah, aku letakka ranjang dalam dadamu
kujadikan rongarongga sempit itu kamar cintaku
aku bahagia mencintamu.
apa kabarmu malam?
Apa kabarmu malam? Sesekali kita terjaga tengah bercermin pada segala, pada fragmen
kalimat yang tidak relevan, pada potongan ingatan akan sebuah kisah
atau percakapan lalu tersandung serpih yang ternyata telah jadi sebutir
kata kunci. Ia membuka kotak pandora dalam dada lalu menyebarkan polusi
di rongga-rongga dengan kental kesedihan dalam udara. Nafas-nafas sarat
lalu sesak dan berat.Apa kabarmu malam? sebuah sedih yang pada puncaknya sanggup
membisukan segenapmu dalam kedap yang sempurna. kedap pepat seperti
perangkap kaca tahan peluru atau ruang "airlock" pada pesawat
antariksa....
aku perempuanmu
aku lupa pada ingatan tentang detak yang meruang dalam darahku, kealpaan yang menyekat untuk selalu diingat. detak yang selalu riuh dengan sebuah tanya yang tak pernah ingin kutahu jawabnya. Tanya yang selalu hinggar dalam diamku : akukah perempuanmu? Perempuan dengan separuh ingatan yang menguap diantara awan yang berubah menjadi gumpalan darah yang membeku dalam satu sudut kesendirian untuk dihingarkan menjadi sebuah seloka di ujung hari bernama senja.Ah, mari kita tasbihkan saja keringat kita dalam desah yang kita tempelkan begitu saja pada sebuah malam di bawah bintang.
itulah: kau!
sembari melafalkan wajahmu pada resonansi abjad-abjad, aku basuh lukamu dengan getir khatulistiwa.
memunguti batu-batu,
menghitung ujung rambutmu dari harap-harap kehadiran.
menapaki jalan-jalan, menangisi kesendirian melulu.
tak ada yang mencoba memecah kesuntukan. berdamai
dengan matahari.
itulah: kau!
sebagian hari kau nampak pucat. seperti wajah bulan di telan gerhana.
ayo, berikan senyummu pada cakrawala. biar segera jelma kepastian.
sebagian hari kau habiskan di puncak panderman. sewaktu kau buka cerita
tentang nenek moyang yang mati sebagai...
|
|